Salama’ Datangki ri profil kehidupan

Jumriya Difar, SE

Buka đź’—

TentangKu

Cerita Panjang: Anak Ketiga dari Delapan Bersaudara

Aku lahir sebagai anak ketiga dari delapan bersaudara, namun sebagai anak perempuan tertua, dunia seakan memberiku tugas sebelum aku sempat memahami arti tanggung jawab. Di tengah keluarga yang sederhana yang kadang hanya punya cukup untuk hari ini namun tetap berusaha tersenyum untuk esok aku tumbuh ditemani suara gelak dan tangis adik-adikku. Rumah kami kecil, tapi penuh kehidupan.

Sejak kecil hingga kelas enam sekolah dasar, hidupku tak pernah benar-benar menetap. Kami merantau dari satu tempat ke tempat lain mengikuti pekerjaan orang tua. Ketika anak-anak lain sibuk menghafal nama tetangga, aku sibuk menghafal cara berkemas cepat. Ketika orang lain bangga bisa berlama-lama di rumah yang sama, aku belajar bahwa “pulang” bisa punya banyak alamat.

Ada malam-malam ketika suara hujan di atap kontrakan membuatku memeluk adik-adikku lebih erat. Tidak jarang, saat ayah dan ibu sibuk mencari nafkah, akulah yang menjadi bahu kecil tempat adik-adikku bersandar.“Tidak apa-apa,” kataku kepada mereka, walau aku sendiri sering menahan air mata. “Kita kuat. Kita bersama.”

Di balik semua itu, aku tumbuh lebih cepat dari usiaku. Dari keluarga sederhana, aku belajar bahwa kekuatan tidak harus berteriak. Ia bisa hadir dalam bentuk tangan kecil yang mengusap kepala adik yang menangis, atau senyum yang dipaksakan agar yang lain tetap tenang. Keluarga kami tak berhenti berpindah, tapi kasih di dalamnya selalu menemukan jalan untuk tetap bertahan.

Namun hidup, seperti buku yang terus berganti bab, akhirnya membawaku ke bab yang berbeda.

Ketika aku mulai menginjak dewasa, perlahan-lahan rantai yang menuntunku mengikuti arus kehidupan orang tua mulai longgar. Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa hidup ini bukan lagi sekadar perjalanan yang ditentukan orang lain aku harus mulai memilih jalanku sendiri.

Sebelum hadirnya seseorang yang kelak menjadi rumah baru bagiku, aku sudah menanam tekad yang teguh. Aku berjanji pada diri sendiri: harus lulus SMA dengan baik, mencari pekerjaan untuk mandiri, membantu meringankan beban keluarga, dan menabung untuk impian yang selama ini kusembunyikan. Impian sederhana tapi berat rasanya: mencicil motor sendiri agar bisa lebih leluasa, dan melanjutkan kuliah sarjana di STIE demi masa depan yang lebih pasti.

Setiap langkahku penuh perhitungan setiap rupiah yang kuhasilkan bukan sekadar uang, tapi simbol tanggung jawab, simbol kebebasan yang kucari. Aku belajar mengatur diri, menahan diri dari godaan yang tak perlu, dan bekerja keras tanpa menyerah. Rasanya seperti menyalakan obor kecil di tengah kegelapan, berharap cahaya itu bisa menuntunku ke arah yang benar.

Dan di saat itulah, takdir mempertemukanku dengan seseorang yang akan menjadi rumah baru bagiku seorang pria yang tidak hanya hadir, tetapi juga bertanggung jawab, mendukung, dan mampu melihat lelah yang selama ini kusembunyikan. Kehadirannya bukan mengubah arah hidupku, melainkan menemani langkahku yang telah kukerjakan dengan penuh perhitungan dan tekad. Bersamanya, aku merasa bahwa setiap pengorbanan dan usaha yang kulakukan bukan hanya berarti untukku sendiri, tetapi juga untuk kehidupan yang lebih utuh dan bermakna.

Ia datang bukan untuk menggantikan kekuatan yang kubangun sejak kecil, tetapi untuk menenangkannya. Untuk mengatakan, “Sekarang, kamu tidak harus kuat sendirian.”

Bersamanya, aku membangun keluarga kecil yang tak pernah kubayangkan dulu. Keluarga yang tidak berpindah-pindah, yang memberi ruang bagi luka masa lalu untuk perlahan sembuh. Dari rahimku, lahirlah dua cahaya kecil: seorang putri sulung yang lembut dan penuh rasa ingin tahu, serta seorang putra bungsu yang ceria dan membawa kehangatan.

Mereka mengisi setiap sudut rumah dengan tawa yang dulu hanya bisa kubayangkan dari cerita orang lain. Di mata mereka, aku bukan lagi kakak yang harus selalu kuat, tetapi seorang ibu yang dicintai apa adanya.

Ada hari-hari ketika aku menggendong anakku sambil mengenang masa kecilku sendiri. Betapa jauhnya aku melangkah. Betapa masa kecil yang penuh perpindahan itu kini berubah menjadi tempatku bersyukur. Semua perjuangan, semua tangis yang kutahan, semua tanggung jawab yang kupikul sejak kecil ternyata mengantarkanku pada kebahagiaan yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya.

Kini aku hidup dalam rumah yang tidak hanya berdiri, tetapi berakar. Aku tidak lagi berjalan sambil melihat ke belakang, takut kehilangan tempat berpijak. Aku sudah memiliki keluarga kecilku suami yang penuh cinta dan dua anak yang membuatku mengerti bahwa setiap luka masa kecilku berubah menjadi kekuatan untuk mencintai lebih besar.

Dan ketika malam datang, aku sering menatap mereka sambil berbisik pada diriku sendiri:

“Ternyata semua yang dulu terasa berat, adalah jalan menuju bahagia yang Tuhan siapkan.”

Bapak

Difar Hidayat Effendi adalah lelaki yang memikul dunia tanpa pernah menunjukkan beratnya. Ia ikhlas dengan cara yang tenang, tulus dengan cara yang tak meminta balasan, dan sabar dengan cara yang membuat orang lain merasa aman. Di balik tawa yang selalu ia selipkan, humor yang dulu hanya strategi marketing kini menjadi kebiasaan yang menghangatkan hidupnya dan orang-orang di sekitarnya. Bapak adalah sosok yang sederhana, tetapi pengaruhnya tidak pernah sederhana. Dalam diamnya, tersimpan cinta paling besar. Dalam tawanya, tersimpan ketangguhan yang tak semua orang mengerti.

Bapak
Mama

Mama

Herlina, Ia bukan lulusan tinggi, bukan pula orang yang pandai berhitung. Tapi ia memiliki sesuatu yang jauh lebih langka dan berharga: insting seorang ibu yang hatinya jauh lebih besar daripada tubuhnya. Jika ada satu kata yang bisa menggambarkan dirinya, itu adalah: "tulus"

Waktu yang Menyatukan Kita

KisahKu

Kisah ini adalah perjalanan singkat tentang bagaimana waktu mempertemukan, membentuk, dan menyatukan keluarga kami. Dari hari kami menikah hingga hadirnya anak-anak, setiap momen menjadi bagian dari cerita yang meneguhkan bahwa semua terjadi pada waktunya. Semoga buku kecil ini menjadi kenangan yang menjaga hangatnya perjalanan kita sebagai satu keluarga.

  • Hari LahirKu

    15 Februari 1991

    Aku lahir di Makassar, kota ayam jantan dari Timur, dengan mimpi yang berlayar bebas seperti Phinisi di Laut Losari.

  • Hari KebanggaanKu

    Januari 2016

    Dengan tetes lelah dan doa yang tak henti, aku menapaki setiap rintangan hingga akhirnya gelar Sarjana S1 di STIE TRI DARMA, jurusan Sumber Daya Manusia, menjadi bukti hidup bahwa mimpi yang diperjuangkan tak pernah sia-sia.

  • Hari KebahagianKu

    5 Maret 2016

    Hari itu kami tidak hanya menikah. Kami mengikat takdir dalam satu keputusan: untuk saling memilih, hari ini, esok, dan sepanjang hidup yang Tuhan izinkan. Aku memilih Hizbullah Mulsy lelaki hitam manis, yang tak pernah lelah berdiri di sisiku. Dalam langkahku yang ragu, ia menjadi keyakinan. Dalam lelahku, ia menjadi rumah. Ia bukan hanya suamiku, tapi pendamping hidup yang selalu berjalan bersamaku, ke mana pun arah hidup membawaku.

  • Lahirnya Anak SulungKu

    15 Desember 2016

    Aisyah Naziha adalah cahaya pertama dalam hidupku perempuan baik, salihah, ceria, dan selalu haus kasih sayang. Ia datang padaku dengan cerita yang jujur, tentang suka maupun duka, seakan aku adalah tempat paling aman baginya. Di kelas, ia selalu ranking, namun bagiku, ia sudah menjadi kebanggaan bahkan sebelum nilai-nilai itu ada. Ia tumbuh kuat, hebat, dan tetap lembut sebuah anugerah yang membuatku bersyukur setiap hari.

  • Lahirnya Anak Bungsuku

    21 Juli 2021

    adalah lelaki kecil yang tampan cerminan diriku sendiri. Ia tidak banyak bicara, tetapi tindakannya selalu lebih lantang dari kata-kata. Ada keberanian dalam dirinya, keberanian untuk menjaga dan melindungiku meski usianya masih muda. Seperti namanya, Imam Uzair Asshauqi, mengandung doa agar ia tumbuh sebagai pemimpin yang membawa kabar baik, suka menolong, dan menjadi kebanggaan orang tuanya kelak. Dan setiap hari, aku melihat tanda-tanda bahwa ia sedang menuju ke sana.

TebakanKu

Jawab pertanyaan di bawah ini:

  • Memuat soal...